Home

Hampir 1 Bulan Tak Serang Kiev, Rusia Luncurkan 4 Misil ke Ibu Kota Ukraina, Ada TK Kena Serangan

Tribunwow | 1 month ago

TRIBUNWOW.COM - Pihak kepolisian di Kiev/Kyiv, Ukraina melaporkan ada lima orang yang tewas dalam serangan misil Rusia pada Minggu (26/6/2022).

Serangan ini diketahui mengenai apartemen yang berada di tengah Kiev.

Dikutip TribunWow.com dari skynews, presiden administrasi daerah tersebut, Andriy Yermak mengatakan sebuah taman kanak-kanan juga terkena serangan.

Anggota parlemen Ukraina, Oleksiy Goncharenko melaporkan total ada 14 misil yang diluncurkan oleh Rusia ke wilayah Kyiv.

Kemudian di Distrik Shevchenkivskiy ada bangunan sembilan lantai di pemukiman warga sipil yang turut terkena serangan.

Serangan ini terjadi setelah tiga minggu Rusia tak pernah menyerang Kiev.

Wali Kota Kiev, Vitali Klitschko mengatakan ada gadis berusia tujuh tahun yang berhasil diselamatkan dari reruntuhan.

Sementara itu Kementerian Pertahanan Rusia menjelaskan pada hari Minggu ini pihaknya hanya melakukan serangan ke fasilitas militer di Chernihiv, Zhytomyr, dan Lviv menggunakan senjata berakurasi tinggi.

Konflik antara Rusia dan Ukraina sampai saat ini masih terus terjadi meskipun beberapa kali telah diadakan perundingan damai.

Semenjak gagalnya perundingan damai di Turki, belum ada lagi agenda besar perundingan damai yang dilakukan oleh Rusia dan Ukraina.

Dikutip TribunWow.com dari rt.com, namun NATO justru meyakini konflik antara Rusia dan Ukraina akan berakhir lewat negosiasi.

Konflik antara Rusia dan Ukraina sampai saat ini masih terus terjadi meskipun beberapa kali telah diadakan perundingan damai.

Semenjak gagalnya perundingan damai di Turki, belum ada lagi agenda besar perundingan damai yang dilakukan oleh Rusia dan Ukraina.

Dikutip TribunWow.com dari rt.com, namun NATO justru meyakini konflik antara Rusia dan Ukraina akan berakhir lewat negosiasi.

Pernyataan ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, Sabtu (25/6/2022).

"Kemungkinan besar, perang ini akan berakhir di meja negosiasi," kata Stoltenberg.

Stoltenberg menjelaskan, saat ini tanggung jawab NATO adalah untuk memastikan Ukraina memiliki posisi yang kuat saat melakukan perundingan dengan Rusia agar kedaulatan negara di Eropa tetap terjaga.

Menurut Stoltenberg, cara paling ampuh untuk membantu Ukraina adalah dengan mengirimkan bantuan militer, ekonomi, hingga sanksi terhadap musuh Ukraina yakni Rusia.

Saat ditanya kapan negosiasi damai akan terwujud, Stoltenberg menolak untuk berkomentar.

"Perdamaian selalu dapat dicapai jika Anda menyerah," kata dia.

"Namun Ukraina berperang demi kemerdekaannya, demi haknya untuk berdiri, demi hak untuk menjadi negara demokrasi tanpa menyerah kepada kekuatan Rusia."

"Dan Ukraina siap untuk membayar harga yang sangat tinggi untuk mengorbankan diri mereka demi nilai-nilai tersebut."

"Bukan hak kita untuk menjelaskan kepada mereka sejauh mana pengorbanan harus dilakukan," papar Stoltenberg.

Ukraina Menyerah Tak Jadi Gabung ke NATO

Sementara itu, pemerintah Ukraina menegaskan tidak akan lagi mengejar-ngejar agar bisa diterima menjadi anggota NATO.

Selama konflik Rusia-Ukraina berjalan, pemerintahan Presiden Rusia Vladimir Putin berkali-kali memperingatkan agar Ukraina tidak bergabung ke NATO karena dapat membahayakan kedaulatan Rusia.

Dikutip TribunWow.com dari rt.com, saat ini Ukraina dipastikan tidak akan lagi berupaya untuk bergabung dengan aliansi militer yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) tersebut.

Finlandia Umumkan Ingin Gabung NATO (TribunVideo)

Informasi ini disampaikan oleh penasihat Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Igor Zhovkva, Sabtu (25/6/2022).

Zhovkva menjelaskan, saat ini pemerintahan Zelensky hanya ingin mendapat pengakuan dari NATO bahwa Ukraina sangat penting untuk menjadi landasan keamanan di regional Eropa.

Volodymyr Zelensky juga ingin memastikan kemitraan antara Ukraina dan NATO.

"Anggota NATO telah menolak aspirasi kami," ujar Zhovkva.

"Kami tidak akan melakukan hal lain dalam masalah ini."

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov merasa yakin bahwa NATO dan Uni Eropa (UE) sedang membangun koalisi yang pada akhirnya bisa berperang dengan Rusia.

Dilansir TribunWow.com dari Newsweek, Jumat (24/5/2022), menilai tindakan tersebut sebagai strategi yang serupa dilakukan Nazi Jerman pada Perang Dunia II.

Orang kepercayaan Presiden Rusia Vladimir Putin itu juga membahas persetujuan yang diperoleh Ukraina untuk menjadi kandidat anggota UE.

Media pemerintah Rusia melaporkan Lavrov membuat komentar tersebut saat berbicara pada konferensi pers di Baku, Azerbaijan, setelah pertemuan dengan Jeyhun Bayramov, menteri luar negeri Azerbaijan.

Selama konferensi dengan wartawan, Lavrov membahas keputusan Uni Eropa untuk memberikan status pencalonan ke Ukraina dan Moldova pada Kamis (23/6/2022).

Baik Ukraina dan Moldova melamar untuk bergabung dengan organisasi itu segera setelah Rusia memulai serangannya terhadap Ukraina pada akhir Februari.

Langkah UE, yang merupakan langkah pertama dalam proses keanggotaan penuh, dipandang sebagai tanda dukungan bagi Ukraina dalam perangnya dengan Rusia.

RT, outlet berita negara Rusia, melaporkan bahwa Lavrov juga membandingkan tindakan NATO dan Uni Eropa baru-baru ini dengan strategi yang digunakan oleh Adolf Hitler sebelum diktator Nazi itu menyerang Uni Soviet.

"Hitler mengumpulkan bagian penting, jika bukan sebagian besar, dari negara-negara Eropa di bawah panjinya untuk perang melawan Uni Soviet," kata Lavrov.

"Sekarang, UE bersama dengan NATO membentuk koalisi lain, yang lebih modern, untuk kebuntuan dan, pada akhirnya, perang dengan Federasi Rusia."

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov (kanan) saat menjalani wawancara eksklusif dengan BBC, Kamis (16/6/2022). (bbc.com)

Hari itu menandai kedua kalinya Lavrov menyebut nama Hitler dalam beberapa pekan terakhir.

Pada 1 Mei, ia membandingkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang adalah orang Yahudi, dengan pemimpin Nazi.

Komentar tersebut dengan cepat dikutuk oleh Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid, yang menuntut permintaan maaf dari Lavrov.

Lapid menyebut perbandingan Lavrov tentang Zelensky dengan Hitler sebagai kesalahan sejarah yang mengerikan dalam sebuah wawancara dengan situs berita Israel Ynet.

"Ini adalah pernyataan skandal yang tak termaafkan," tegas Lapid.

Mikhail Podolyak, seorang penasihat Ukraina untuk kantor kepresidenan, juga termasuk di antara mereka yang mengkritik Lavrov karena menyamakan Zelensky dengan Hitler.

"Pernyataan anti-Semit yang jujur ​​dari Lavrov, tuduhan terhadap orang-orang Yahudi dalam Perang Dunia II dan Holocaust adalah bukti lebih lanjut bahwa Rusia adalah penerus sah ideologi Nazi. Mencoba untuk menulis ulang sejarah, Moskow hanya mencari argumen untuk membenarkan pembantaian warga Ukraina,” kata Podolyak di Twitter.

Adapun sejak awal invasi, Kremlin telah berulang kali mengatakan bahwa salah satu tujuan utamanya dalam menginvasi negara tetangga adalah untuk mende-nazifikasi Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga menggunakan kemungkinan ekspansi NATO sebagai salah satu alasan untuk membenarkan konflik, meskipun Finlandia dan Swedia sama-sama mendaftar untuk bergabung dengan aliansi setelah pecahnya perang.

Dia juga telah memperingatkan NATO dan AS untuk tidak terlibat langsung dalam perang. (TribunWow.com/Anung/Via)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Lihat Sumber

  • 0

  • 0

Rekomendasi Artikel

Infinity Ward Bakal Rilis Call of Duty: Modern Warfare II Beta, Ini Tanggalnya!

IndozoneID

Motif Pembunuhan Brigadir Joshua Ternyata Banyak, Kriminolog Beberkan Faktanya

PojokSatu

5 Tips Dapatkan Hati Gebetan yang Dekat dengan Keluarga, Pahami!

IDN Times

Misteri Wajah Istri Ferdy Sambo, Konon yang Muncul ke Publik Bukan Putri Candrawathi Asli

IndozoneID

5

Fakta-fakta Dream Theater, Band Kelas Dunia Manggung di Solo

IDN Times

2

Tulis komentar...